Jakarta, Amanatnews.My.Id — Pemerintah memproyeksikan perekonomian Indonesia dapat tumbuh setidaknya 5,5 persen pada semester II 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam agenda ekonomi di Jakarta pada 23 September 2026.
Pemerintah berharap kinerja ekonomi pada paruh kedua tahun ini dapat mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional 2026 yang ditetapkan dalam kerangka ekonomi makro sebesar 5,4 persen.
Ekonomi Triwulan II Tumbuh 5,29 Persen
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year).
Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan triwulan I 2026. Sementara itu, ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi produksi, sektor pengadaan listrik dan gas mencatat pertumbuhan tertinggi pada triwulan II 2026, yakni 10,81 persen secara tahunan.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 15,97 persen secara tahunan.
Pemerintah Perhatikan Daya Beli Masyarakat
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan angka produk domestik bruto, tetapi juga dengan aktivitas konsumsi, investasi, produksi, dan daya beli masyarakat.
Pemerintah menyatakan berbagai kebijakan dan stimulus terus diarahkan untuk menjaga daya beli sekaligus mempertahankan stabilitas harga.
Di sisi moneter, Bank Indonesia pada Rapat Dewan Gubernur 22–23 September 2026 memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. Deposit Facility ditetapkan 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Bank Indonesia menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Inflasi Agustus 2026 Tercatat 3,19 Persen
BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 persen secara tahunan. Inflasi bulanan berada di level 0,21 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,86 persen.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga.
Tantangan Ekonomi Masih Perlu Diantisipasi
Di tengah proyeksi pertumbuhan tersebut, perekonomian Indonesia tetap menghadapi dinamika global yang dapat memengaruhi perdagangan, investasi, nilai tukar, dan harga komoditas.
Data BPS menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, naik 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, impor mencapai US$163,33 miliar atau meningkat 19,94 persen. Neraca perdagangan masih mencatat surplus sebesar US$3,70 miliar.
Kinerja perdagangan tersebut menjadi salah satu faktor yang akan terus diperhatikan dalam melihat perkembangan ekonomi nasional sepanjang 2026.
Semester II Menjadi Periode Penting
Dengan pertumbuhan ekonomi semester I sebesar 5,45 persen, pemerintah berharap kinerja pada semester II dapat dipertahankan dan ditingkatkan.
Proyeksi pertumbuhan di atas 5,5 persen pada paruh kedua tahun ini masih harus ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik, investasi, konsumsi masyarakat, serta kemampuan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi di tengah perubahan kondisi global.
Perkembangan indikator ekonomi dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi bagian penting untuk melihat apakah target pertumbuhan ekonomi 2026 dapat tercapai.

Posting Komentar untuk "Ekonomi Indonesia Ditargetkan Tumbuh di Atas 5,5 Persen pada Semester II 2026"